Nirwana

Ilalang itu bergoyang, saat ku sentuh dengan tanganku yang putih pucat dan menggigil. "Assalamualaikum Na, masihkah ingat tempat ku berdiri ini?, aku sendirian Na, bagimu untuk apa aku disini?, apakah aku menunggumu? tidak Na, bahkan jika itu benar, aku tidak benar-benar menunggu".  
Debu yang terbang menyentuh kakiku yang telanjang tak beralas apapun, bahkan duri serta merta menancap sesukanya,  tapi yang sakit itu hatiku, sakit melebihi apapun. " Na, Kamu dimana? apakah suaraku terdengar sampai ke Nirwana? adakah kamu mendengarku? jika tak bisa menjawab, tak apa Na, jawablah dengan angin saja".
Aku lalu pulang dengan hati masih hampa, sakit itu tak jua terobati. Aku mengira Nirwana sedang tertawa karena sekali lagi dia membuatku begitu kecewa. "tak bisa ku katakan kamu itu jahat, dari dulu yang jahat itu aku yang tak bisa mengerti bahwa tidak pernah ada rasa sedikitpun sejak pertama sampai akhir kita bersua. salahku yang berharap lebih."  
banyak dari mereka yang menemukan cinta sejati, tapi tak pernah utuh memilikinya. itu aku, aku salah satu dari mereka, menerka Nirwana sang cinta sejati tapi seujung kuku pun cintanya tak  ada padaku.

2 Tahun yang Lalu. ....


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lupa

Hingga Juni

Pembisik