Ombak
Halus, dan lembut. Debur ombak itu melewati jemariku. Menapak jejak di pasir coklat bagai garis garis petunjuk arah. Tersirat pesan "Ayo ikuti aku". Ombak itu pelan, ia menyapa pantai, lalu kembali ke laut. Jejak itu membentangkan rindu. Rindu untuk ombak yang selalu bernyanyi menentramkan hati yang pilu. Antara percaya atau tidak. Ia ombak yang selalu aku rindu, ia ombak yang mengisi hatiku. Ia kembali lalu pergi, menyapa sebentar lalu pergi, tapi tidak benar benar pergi. Ia pastikan ia kembali. Sang ombak berkata, aku harus kembali menyapamu lagi berkali kali untuk mengambil rindumu dan menggantinya dengan kelegaan. Itu tugasku, bukti abdiku. Untukmu. Kini aku lega.