Postingan

Hingga Juni

 Tak akan ku pertanyakan berapa juta doaku yang terpanjatkan belum ku lihat tertandanya Tak apa, ku fikir  waktu ini spesial Aku pernah menunggu lebih lama dari ini Hingga Juni seterusnya dan Juni sekiannya berjuang se urat nadi yang mengencang menanti.

Sebuah pertanyaan

 Mungkin itu sembilan tahun lalu, saat aku tidak lagi meyakini aku layak dicintai Bagiku itu sebuah “positif thinking” padahal ? Sampai suatu sore, aku mengeluhkan ini kepada ibu  “Sepertinya aku tak kan berjodoh dengan siapapun, bu ! “ pernyataanku. Dan ibu dengan santainya menamparku lewat bahasanya Jika kala itu aku sadar, mungkin aku tak akan serendah diri ini .  Kala , By LF

Gadis Berponimu, Ayah!

 Bisa ku hitung berapa detik tangisanku hari itu, dihari aku merasa kenangan mulai berputar dikepalaku.  pagi itu, aku duduk didepan televisi jadul sambil terus membetulkan poni yang jatuh menusuk mataku.  Aku sedang dipangku, kami menunggu, menunggu kartun Tom n Jerry mulai tayang.  pagi itu, dengan mulut yang penuh, aku duduk di atas kursi kecil sambil memakai kaus dan sepatuku, tangannya terus menyuapiku hingga aku berkata "yah boleh tambah lagi?" Pagi itu, dia berjalan di depanku, dihari kami ingin melihat laut bersama.  "cepatlah" katanya. Aku lalu menggerutu "Ayah, tunggu lah jangan cepat cepat". sekelebat kenangan melintas, aku merinding. ku lihat suster sudah mengemasinya. lalu ku tatap seseorang itu. aku tak mampu lagi menangis.  -pagi,  By LF, 14 Februari 2021

Pulpen Merah Jambu

Pencapaian, Tidak luput dari sebuah dorongan yang disebut "Mimpi" Jika tidak tahu dari mana harus memulai, mulailah dari situ Berimajinasilah dulu, presentasikan lewat mata fikiranmu lalu, genggamlah pulpen merah jambu mulailah menuliskannya Tentu, tidak berkah jika tanpa doa restu lanjutkan dengan pengharapan tiada yang namanya  "lancar" jika tanpa itu berserahlah Pulpen merah jambu, harus mau jadi saksi agar mimpi ini dapat menuliskan "wujud" nya demi nyata yang diberkahi genggamlah dan tulis semua yang kamu mimpikan lalu.. bergeraklah Tapaktuan, 17 Maret 2019 B Y . L F

Lupa

Ada sisa kesempatan  yang seharusnya ku gunakan dengan ikhlas Kini, terhimpit waktu dikejar kejarnya aku Aku tak pernah mau melihat kebelakang itu terlalu menyeramkan layu, warnanya coklat buruk busuk  begitulah jika menoleh Aku berlari saja sejauh jauhnya aku bisa aku begitu ingin menciptakan kecepatan hingga lupa ada keheningan lampau yang telah ku tinggalkan . -LF

Fiksi Series 1. Turqoise

ONE_Dari jauh, sepasang mata memandang tanpa berkedip mencari cari sesuatu. Disekitarnya, ada alunan tenang yang mendukung  suasana penasaran. Sesuatu itu bergerak, mendekat dan terus mendekat. ia sampai pada sebuah dinding batu besar berwarna kuning dan hitam dan ia berhenti tapi masih terus melihat sekeliling. Ia menghela nafas, dan menduga duga apa ia salah alamat atau ia sudah disini tapi tempat yang ia cari tak ada lagi. Ia lalu memutar, menjelajahi tembok batu itu dan bertanya dalam benak "sejak kapan batu ini ada disini?". Ia pun melihat sesuatu, yang tumbuh disela sela batu. Sesuatu itu berwarna hijau, melambai lambai mengikuti alunan tenang. seketika matanya berbinar, lalu ia merasa tiba tiba diserang kelaparan. ia memutuskan tinggal disitu, meski rumahnya yang nyata tak pernah ia lihat lagi. kampung halaman pasirnya berubah jadi batu.

Perjalanan

Satu, dua, tiga Aku telah melangkah Melakukan perjalanan untuk mencari jati diri Sampai ke titik ini Aku menemukan banyak hal dan kehilangan banyak hal Ada perubahan sudut pandang Melihat apa yang orang lain lihat, merasakan apa yang orang lain rasakan Ada ku dapati kebijaksanaan untuk menentukan pilihan Setiap perjalanan akan menciptakan keberanian Keberanian untuk melangkah lebih jauh, lebih bijak, lebih mendekati tujuan Setiap perjalanan memiliki kisah yang akan dibagikan untuk dikenang sepanjang masa